Tertinggi di Dunia! Jokowi Capai 80% Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah

Berdasarkan data yang diambil oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD, bukan OCD, kalau OCD itu saya hehehe), Indonesia mendapatkan urutan puncak di dalam Trust and Confidence in National Government. Menteri Keuangan Sri Mulyani, salah satu Srikandi dalam Kabinet Kerja Joko Widodo pun mengkonfirmasi hal ini. Sri Mulyani menjelaskan bahwa laporan terebut dilihat dari berbagai aspek yang dinilai. Indikator-indikator pencapaian sektor publik menjadi penilai dalam penentuan peringkat.

“Terkait hal tersebut, OECD menggunakan hasil survei yang dilakukan oleh salah satu lembaga survei internasional yang berbasis di Amerika Serikat yaitu Gallup World Poll (GWP)… Tingkat kepercayaan terhadap pemerintah dipengaruhi oleh apakah masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat tanggap dan adil serta mampu melindungi masyarakat dari risiko-risiko dan memberikan pelayanan publik secara efektif” kata Sri Mulyani sebagaimana dikutip Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden (Setpres) Bey Machmudin dalam siaran persnya Selasa (18/7) petang.

Hasil survey ini menunjukkan bahwa Indonesia menduduki ranking tertinggi untuk kepercayaan terhadap pemerintah, bersama dengan Swiss. Jika dibandingkan dengan negara-negara maju pun, Indonesia tetap berada di dalam pencapaian yang tinggi.

Lihat saja negeri Paman Sam Amerika Serikat mendapatkan 30%, Inggris 31%, Jerman 55%, dan Perancis 28%. Bahkan jika kita komparasikan antara negara berkembang lainnya, India yang memiliki nilai tinggi 73% pun masih harus mengakui kekalahannya kepada Indonesia. Lantas berapakah persentase kepercayaan rakyat Indonesia terhadap negaranya?

“Enam peringkat teratas negara-negara tersebut adalah Indonesia, Swiss, India, Luksemburg, Norwegia dan Kanada… Kepercayaan terhadap pemerintah adalah pendorong efektivitas pemerintah dan pembangunan ekonomi, serta merupakan ukuran dari hasil kebijakan pemerintah… Kepercayaan terhadap pemerintah berhubungan kuat dengan dukungan masyarakat terhadap kepemimpinan negara mereka. Saat pemerintah dipandang memiliki integritas moral yang tinggi lebih banyak masyarakat percaya pemerintah…” ungkap Sri Mulyani.

Indonesia memperoleh persentase 80% terhadap kepercayaan publik. Meningkat dibandingkan pada tahun 2007 yang hanya mencapai 28%. Siapa ya pemerintahan yang berkuasa pada tahun 2007? Ya siapa lagi kalau bukan Susilo Bambang Yudhoyono? Ini adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan, melihat kemajuan yang ada.

Maka jika kita sering melihat cibiran-cibiran yang dimunculkan oleh para haters terhadap kinerja Jokowi, mereka hanya suara-suara 20%. Lucunya, 20% nilai tersebut, memiliki kuasa yang cukup tinggi di kursi DPR. Lihat saja mulut Fahri, Fadli dan bosnya Prabowo. Mereka adalah kumpulan orang-orang sakit hati, yang dari 48% suara pada tahun 2014, hanya tinggal secuil.

Jokowi berhasil menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat, makmur, berkeadilan dan sentosa. Semangat membanggakan diri sebagai warga negara Indonesia sudah mulai merasuk ke dalam jiwa setiap rakyatnya. Hal ini merupakan tanda bahwa pemerintah telah bekerja dengan baik, dan usaha tersebut diapresiasi oleh masyarakat Indonesia.

Selama ini kita tahu bahwa Indonesia adalah negara yang dianggap sebagai negara dunia ketiga alias negara yang berkembang dan cenderung terbelakang. Kita tahu bahwa negara di bawah garis khatulistiwa merupakan negara-negara yang cenderung berkembang dan terbelakang, kecuali Australia.

Jika kita penganut paham bumi sebagai bola pipih, kita tahu bahwa negara-negara berkembang cenderung menjadi negara produsen. Namun melihat dari apa yang sudah dikerjakan oleh Presiden Joko Widodo dan para jajaran menteri, Indonesia sekarang sudah mulai beranjak naik. Indonesia mulai meninggalkan label-label ‘terbelakang’, ‘mundur’, ‘berkembang’ dan berbagai label-label negatif lainnya.



Kepercayaan yang bernilai 80% bukanlah suatu pencapaian yang mudah. Butuh daya juang kerja yang sangat luar biasa untuk mencapai nilai tersebut. Sulit sekali kita memuaskan seluruh rakyat. Mungkin jika Prabowo yang menjadi Presiden, ia hanya bisa ‘menjilat’ sebagian rakyat, dan menganggap sebagian orang tersebut sebagai perwakilan Indonesia.

Tradisi jilat dan menjilat pantat sudah ada selama ini dan sudah menjadi budaya Indonesia. Jokowi memilih untuk membuang hal tersebut dan tidak menggunakan cara-cara najis tersebut. Bukan hanya merendahkan harga diri, cara jilat menjilat ini justru menjadi sebuah cara yang justru menurunkan tingkat kepuasan rakyat terhadap pemerintah.

Lihat saja anggota DPR, mereka-mereka menjilat para penguasa sedemikian rupa, namun pada akhirnya mereka tidak menjadi siapa-siapa, maupun menjadi apa-apa. Ini merupakan hukum alam yang tidak tertulis. Peraturan yang tidak tertulis ini memberikan satu pengertian bagi kita. Jangan menjilat, jika tidak ingin diinjak.

Para begundal DPR sudah begitu rendah harga dirinya, karena kasus-kasus yang menyerang mereka. Mereka menggunakan status ‘terhormat’ wakil rakyat mereka, hanya untuk melicinkan tindak pidana korupsi yang dilakukan. Lagi-lagi, Jokowi tidak menggunakan cara demikian. Cara yang sangat tidak santun, agamis, dan etis. Lihat saja orang-orang yang berhasil memenangkan ajang pilkada dengan politik SARA.

Mungkin mereka bisa mendapatkan 58% suara, namun mereka tidak lagi mampu untuk meraih dan mengemis 1% pun kepercayaan. Mereka yang sudah ‘meludah ludahan manis’ ke muka rakyat dengan para janji-janji, harus kembali menjilat ludah mereka sendiri. Alangkah busuknya cara-cara yang digunakan mereka, sehingga mereka dijadikan bahan makian mayoritas warga Jakarta.

Indonesia pada akhirnya menjadi sebuah negara yang harus diakui oleh dunia di dalam pencapaian kepuasan rakyat Indonesia. Indonesia sudah mulai bangkit dari keterpurukan 10 tahun pemimpin sebelumnya. Jokowi dan para jajaran menteri, berhasil membawa Indonesia ke arah yang jauh lebih baik. 10 tahun SBY, tak mungkin dapat dibandingkan dengan 3 tahun pemerintahan Joko Widodo. Indonesia butuh kebangunan, dan Indonesia sudah mendapatkan kebangunan tersebut!

Kebangunan birokrasi, pembangunan infrastruktur, ekonomi, penegakan hukum, penguatan ideologi Pancasila, kesatuan agama, persatuan antar agama, dan berbagai macam sudah dijalankan dan sedang terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia. Kita harus dukung Jokowi untuk melanjutkan periode berikutnya!

Terima kasih kepada Sri Mulyani karena gebrakan Tax Amnesty. Terima kasih kepada Polisi untuk tindakan antiteror yang digalakkan. Terima kasih kepada KPK untuk setiap penetapan-penetapan status tersangka para terduga korupsi. Terima kasih kepada Basuki Hadimuljono di dalam membangun infrastruktur Indonesia. Terima kasih Bu Susi untuk kedaulatan maritim Indonesia. Terima kasih Pak Luhut, Jonan, dan Archandra untuk kedaulatan Free Port. Terima kasih Wiranto karena sudah membubarkan ormas anti Pancasila. Terima kasih kepada semua menteri yang tak mungkin saya sebutkan satu per satu. Pada akhirnya, terima kasih tertinggi saya ucapkan kepada Jokowi yang ‘diam’ dan memberikan ruang untuk hukum yang berkeadilan dijalankan di muka bumi Indonesia.

Merdeka!

Betul kan yang saya katakan?


Jokowi: Penegak Hukum Harus Bisa Bedakan Kebijakan dan Korupsi

Presiden Joko Widodo meminta kepala daerah berani dalam mengambil sebuah keputusan selama pengambilan kebijakan. Jokowi berpesan, asalkan kebijakan yang dibuat benar untuk rakyat, kepala daerah tak usah takut pada jeratan hukum.

"Harus berani mengambil keputusan, dan harus jelas memilah dengan mengubah sistem yang harus dilakukan, jangan sampai ada pejabat melompat pagar dari sistem itu sendiri," kata Jokowi kepada wartawan setelah menutup Rakernas Apeksi di Hotel Savana, Jalan Letjen Sutoyo, Kota Malang, Kamis (20/7/2017).

Menurut Jokowi, yang terjadi selama ini, pemda ataupun kepala daerah bimbang dalam memilah atau mengambil sebuah kebijakan.

"Karena saya bisa lihat pemda bimbang dalam memilah ini dalam memutuskan karena pemilahan ini harus jelas," ujar Jokowi.

Presiden juga menegaskan pentingnya memilah anggaran, apakah itu memang benar untuk kebijakan atau memang disengaja mencuri uang rakyat.

"Kepala daerah harus berani mengambil keputusan dan aparat hukum harus memahami itu adalah kebijakan karena apa pun namanya, wali kota, gubernur, punya wewenang memutuskan sesuatu," ucapnya.

"Penegak hukum harus bisa memilah mana yang kebijakan mana yang nyolong duit rakyat," tuturnya.

Sebelumnya, salah satu pembahasan Rakernas Apeksi adalah kebijakan kepala daerah tidak menjadi target penegakan hukum. Kebijakan dijalankan dengan memanfaatkan anggaran murni untuk mendorong kemajuan daerah itu sendiri.

Mantan Duet Ahok di Pilkada DKI Kini Layani Jokowi

Heru Budi Hartono, dipercaya oleh Presiden Joko Widodo menjadi Kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres).

Heru bukanlah orang baru bagi Presiden Jokowi. Saat Jokowi menjadi Gubernur DKI 2012, Heru adalah salah satu pejabat yang diorbitkan oleh Jokowi. Heru mengatakan, jabatan untuk Kasetpres dilakukan secara terbuka. Ia mengikuti proses itu hingga terpilih dan dilantik Kamis, 20 Juli 2017.

Walau banyak yang menilai kedekatan dirinya dengan Presiden Jokowi, Heru mengatakan akan semaksimal mungkin bekerja untuk orang nomor satu di Indonesia itu.

"Ya tentunya sesuai dengan tupoksi tugas, saya akan berusaha maksimal tentunya melayani beliau (Jokowi) dengan baik. Tentunya saya harus melakukan itu dengan penuh tanggung jawab," kata Heru, usai di lantik di Gedung III Sekretariat Negara, Jakarta, Kamis, 20 Juli 2017.

Walau Heru sudah paham cara kerja Jokowi semasa di DKI, namun ia mengaku kalau sekarang tentu lebih berat. Sesuai pesan Mensesneg, yakni tetap harus berinovasi dan menampilkan kesederhanaan.

"Tentunya tantangan ke depan lebih besar, tanggung jawab lebih banyak lagi tentang kendalinya yang harus saya koordinasikan lebih luas dan itu harus saya lakukan tentunya harus saya lakukan dan harus berkoneksi dengan cepat dan baik," kata Heru.

Seperti diketahui, mantan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemprov Heru Budi Hartono sempat menjadi Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta mendampingi Ahok ketika akan maju melalui jalur independen pada Pilkada DKI Jakarta 2017 kemarin.

Namun, lantaran Ahok memilih diusung oleh partai, Heru pun tersingkir. Kala itu, Ahok kembali bersandingan dengan Djarot Saiful Hidayat. Diketahui, pasangan Ahok dan Djarot kalah dalam Pilkada DKI.

Kisah "Teman Ahok" Dimarahi Ahok

Sebagai relawan yang telah banyak membantu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, " Teman Ahok" ternyata tidak mendapat perlakuan istimewa dari Ahok. Salah satu pendiri Teman Ahok, Amalia Ayuningtyas, bercerita tentang sikap tegas Ahok yang juga berlaku untuk mereka.

Amalia mengingat kembali kisah pada masa kampanye, ketika itu Teman Ahok akan membuat galla dinner bersama Ahok untuk 1.000 orang.

"Waktu itu Pak Ahok ngamuk karena NPWP dan KTP yang terkumpul belum rapi. Beliau kan sangat concern ya dengan sistem pendanaan untuk kampanye," ujar Amalia kepada Kompas.com, Rabu (19/7/2017).

Amalia mengatakan, dia dan teman-temannya sampai punya julukan khusus untuk Ahok. Ahok mereka sebut "auditor" karena selalu menuntut administrasi dan pencatatan keuangan yang rapi.

Setelah "disemprot" Ahok pada malam itu, Amalia dan teman-temannya merasa sedih.

"Tapi ya biarpun ada perasaan sedih, kami tetap bisa melihat sisi pembelajarannya. Memang standar yang sudah dibuat sama Pak Ahok baik bagi dirinya sendiri juga sudah tinggi, jadi ya relawan harus ikut," ujar Amalia.

Ada lagi cerita tahun 2015 ketika Teman Ahok menggunakan area car free day (CFD) untuk menunjukkan dukungan kepada Ahok. Saat itu, belum ada larangan melaksanakan kegiatan politik di car free day.

"Setelah acara berhasil dan dukungan besar, eh besoknya car free day enggak boleh untuk kegiatan politik," ujar Amalia.

Padahal, rencananya acara dukungan untuk Ahok itu akan digelar dua minggu atau dua kali CFD. Bukan Ahok yang secara langsung menegur mereka, melainkan salah seorang staf yang mengelola CFD.

"Minggu kedua ditegur, ada staff yang menghubungi kami, lalu besoknya dikasih pengumuman enggak boleh (melakukan kegiatan politik di CFD)," ujar Amalia.

Tantangan dari Ahok

Pengalaman-pengalaman selama menjadi relawan Ahok itu dituangkan Amalia dalam buku "Ahok di Mata Mereka". Amalia mengatakan pada dasarnya interaksi langsung antara Ahok dan Teman Ahok tidak terlalu banyak. Namun setiap bertemu, Ahok akan memberi banyak masukan kepada mereka.

Sejak dulu, kata Amalia, Teman Ahok juga sudah terbiasa dengan tantangan dari Ahok.

"Jadi relawan Bapak itu unik banget. Dia sekaligus mengajari dan kasih tantangan juga ke kita. Misalnya 'Kalau enggak 1 juta KTP gue enggak mau ketemu," ujar Amalia.

Saat pengumpulan KTP dulu, Ahok memang menolak bertemu dengan Teman Ahok. Ahok baru bersedia bertemu setelah Teman Ahok membuktikan keseriusan mereka dalam mengumpulkan KTP.

Tantangan lain dari Ahok kepada Teman Ahok adalah membuktikan bahwa rakyat bersedia membiayai pemimpinnya. Kepada Teman Ahok, Ahok bercerita bahwa proses politik itu mahal. Saat menduduki jabatan, politisi akhirnya suka sibuk membayar hutang daripada bekerja.

Ahok meminta Teman Ahok mengkoordinasi masyarakat yang rela menyumbang waktu, tenaga, hingga materinya untuk mendukung Ahok. Dari pemikiran itu, terwujudlah acara Teman Ahok Fair.

"Biasanya kalau kampanye orang-orang dikasih makanan, dikasih ongkos. Tapi kami bikin Teman Ahok Fair dimana orang bayar tiketnya dan masih ada yang nyumbang makanan. Itu bukti di Indoensia politiknya sudah maju," ujar Amalia.

Masyarakat tidak hanya berperan saat hari pencoblosan saja. Amalia mengatakan menjadi relawan Teman Ahok juga menguras energi. Banyak di antara mereka yang memilih untuk keluar dari pekerjaan, menunda skripsi, dan menunda kuliah S2 demi membantu Ahok.

Hasil akhir yang terjadi saat ini memang tidak sesuai dengan yang mereka harapkan. Namun, Teman Ahok tetap merasa sukses dan senang dalam mendukung Ahok. Kesuksesan-kesuksesan kecilnya adalah saat berhasil menjawab tantangan dari Ahok, sekaligus menunjukan bahwa masyarakat mau berpartisipasi mendukung kandidat idola mereka.

"Alhamdulillah, tidak ada challenge dari Pak Ahok yang kita gagal," kata Amalia.

Nusron Wahid Siap Potong Tangan Kalau Ahok Sampai Berhenti Berpolitik

Politisi Partai Golkar Nusron Wahidmenjamin mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akan kembali berpolitik setelah ia selesai menjalani masa hukumannya.

Ahok tengah menjalani hukuman kurungan selama dua tahun di Mako Brimob, Depok.

"Sudahlah potong tangan saya, kalau Ahok kuat berhenti main politik, enggak bisa. Saya yakin orang seperti Ahok itu gatal kalau enggak main politik," kata Nusron, di acara peluncuran buku "Ahok di Mata Mereka", di Hotel Pullman, Jakarta, Rabu (19/7/2017).

Dia meyakini, Ahok tetap akan berpolitik meski sang istri, Veronica Tan, mengancam cerai. Anak-anak Ahok juga mengancam akan mengasingkan diri jika ayahnya kembali berpolitik.

Nusron mengibaratkan, meminta Ahok berhenti politik sama saja dengan meminta Akbar Tanjung berhenti berpolitik.

"Sama halnya meminta keluarga Sinarmas, Djarum buat berhenti berbisnis. Memang habit-nya Ahok seperti itu," kata Nusron.

Namun, apakah Ahok dapat bertahan di dunia politik setelah tersandung kasus penodaan agama.

Menurut Nusron, bertahannya Ahok dalam dunia politik bergantung dengan berkembangnya Islam di Indonesia. Apakah Islam yang moderat atau Islam yang radikal.

Baca: Perbedaan Sikap Ahok dengan Nusron Wahid soal Perjalanan Dinas DPR

Selama bulan Ramadhan, kata Nusron, Golkar mengadakan riset mengenai persebaran Islam di Indonesia.

"Menurut riset kami di level pengusaha, birokrasi, keuangan, dan lain-lain, ada 87 persen penceramah di bulan Ramadhan, penceramahnya dari HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Kalau model Islam ini yang menang, Ahok enggak akan survive di panggung politik," kata Nusron.

Mengejutkan! Gue Ditinggalkan Mereka yang Pernah Mengelu-elukan Gue, Ahok Merasa Dihempaskan?

Apa kabar mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)?

Sekian bulan mendekam dalam tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok untuk menjalani hukuman pejara dua tahun dalam kasus penistaan agama, Ahok kembali bercerita.

Tak kalah mengejutkan dari kisah-kisah sebelumnya yang terungkap kepada sejumlah kerabat dan sahabat yang pernah mengunjunginya, kali ini Ahok bicara tentang pengalaman imannya selama berada dalam tahanan.

Siapa sangka, selama ditahan Ahok pun mengakui ditinggalkan sejumlah orang yang pernah mengelu-elukannya.

"Gue ngerasain sendiri gimana ngeliat ada orang orang yang tadinya mengelu elukan gue, sekarang nggak tau kemana ( sambil tertawa jenaka). Yesus aja udah ngerasain, apalagi gue, dia ulang lagi kalimat itu. Tapi gue sudah lepaskan pengampunan, walau sejujurnya berat ketika melakukan."

Kepada pimpinan dan karyawan PT BPK Gunung Mulia yang mengunjunginya di tahanan, Ahok bercerita banyak hal.

Cerita yang pasti ditunggu-tunggu mereka yang merindukannya.

Dikutip dari akun Facebook Philips Joeng, berikut isi curhat Ahok :


**RAGAKU TERBELENGGU, TAPI TIDAK JIWAKU**

Bersyukur sekali kami dari BPK Gunung Mulia hari ini 18/07/17 bisa mengunjungi mantan Gubernur DKI Jakarta yang sangat kami kagumi, Basuki Tjahaya Purnama di rutan Mako Brimob.

Senang sekali karena kita yang datang semuanya Kristen sehingga bisa bicara serius soal pengalaman iman beliau.

Diawali dengan melewati penjagaan berlapis akhirnya kami bisa bertemu. Ia mengenakan kaos berwarna abu abu, celana hitam.

Baru duduk, Pak Ahok langsung bicara soal olahraga dan jam yang lebih santai. Semua ini saya sudah sering dengar. Maka ketika Pak Ahok mengatakan mau melucu dengan mencoba jurus stand up comedynya yang terbaru, saya potong saja dan tanya langsung, apakah pak Ahok merasa terhempas ?

Raut wajahnya langsung berubah, Ia menatap saya sangat lekat (kami hanya terpisah 1,5 meter) dan ia bicara dengan nada yang berbeda dengan diawal ketika bicara soal olah raga, tensi dan penghasilan sebagai gubernur yang lebih kecil dari saat menjadi wakil gubernur yang juga sudah pernah saya dengar.

Saya ulangi lagi pertanyaan saya, apakah bapak merasa terhempas ? Pengalaman iman apa yang Pak Ahok rasakan ? Ahok langsung menjawab, saya percaya manusia mereka rekakan kejahatan tapi Tuhan mereka rekakannya untuk kebaikan! (Saya langsung ingat ini ayat dari Kej 50 ketika Yusuf mengampuni saudara saudaranya)

Yesus sudah alami ini 2000 tahun lalu, Yesus aja alami (dengan nada yang semakin tinggi) apalagi cuma gue. 

Ia melanjutkan dengan tangan terkepal, gue udah ngerasa bakal masuk waktu Jumat Agung! Ia ulangi lagi di Jumat Agung, sepertinya sudah ada perasaan akan dihukum ketika melihat lelehan lilin itu (aksi lilin), seperti melihat minyak narwastu, (kita kaget, tapi justru ia tertawa lepas) lalu bunga bunga papan itu seperti daun palma. Yah kayak waktu Yesus mau disalib. Tapi nggak apa apa, gue udah siap dan memaafkan. (Ahok tercenung sejenak) Padahal tadinya dengan tuntutan percobaan gue masih merasa bisa menyelesaikan jabatan di Oktober. Semua tiba tiba berubah!

Walau kepala gue panas dan dada gue juga panas, karena perasaan diperlakukan nggak adil ini seperti terus bertalu talu di kepala (ia menunjuk kepalanya), tapi saya mulai dan harus bisa melewati. Gue tersadar bahwa Tuhan lagi kirim saya retreat ditempat ini, Tuhan lagi benahi iman saya untuk ke depan ... yaah 25 tahunan lagilah. Pasti loe nanya kok 25 tahun (ia tertawa lagi), nggak ketuaan tuh, ya nggaklah keluarga gue keturunan umur panjang. 94 tahun aja ada.

Lu tadi tanya soal pengalaman iman kan,

Pak Ahok lanjut lagi, pertolongan Tuhan udah pernah saya rasakan pribadi waktu keluarga saya jatuh, gue cuma makan nasi sama ikan belah dua sama kecap, spare part nggak ada, karyawan harus dibayar, uang nggak ada, minyak nggak ada, tapi pas saya keluar rumah di pagi hari, saya tersadar bahwa kebaikan Tuhan seperti embun di pagi hari. Dan bener aja, masa tersulit itu terlewatkan dengan cara di luar yang gue pikirkan. (Saya langsung ingat lagi Mazmur yang ia kutip, ini orang mengalami internalisasi firman dengan baik nampaknya)

Gue yakin kasih setia Tuhan tetap sama, dan sekarang inilah saatnya gue merenungkannya. Hari hari di rumah tahanan ini gue isi dengan menulis dua hal setiap hari, tema dan soal management. Pokoknya mantap, pendeta bisa kalah nih khotbahnya, (ia tersenyum geli) gue ngerasain sendiri gimana ngeliat ada orang orang yang tadinya mengelu elukan gue, sekarang nggak tau kemana ( sambil tertawa jenaka). Yesus aja udah ngerasain, apalagi gue, dia ulang lagi kalimat itu. Tapi gue sudah lepaskan pengampunan, walau sejujurnya berat ketika melakukan. Tiba tiba Ahok menyodorkan air mineralnya, saya ambil tapi kerongkongan tercekat. (Kok masih mau mikirin tamunya?)

Menarik sekali melihat Ahok berbicara karena ada hal yang saya nggak bisa lupakan, tatapan mata Ahok itu. Tatapan mata yang sangat tulus, ia narapidana namun matanya berbinar jernih dengan wajah yang bebas beban, segar dan penuh energi. Luar biasa! Hebatnya selama berbicara ia tidak menyalahkan orang. 

Pendeta Kaihatu mantan Ketua Sinode GPIB alumni Skotlandia yang ikut berkunjung berkata lirih ke saya, ini kunjungan tahanan paling aneh seumur hidup saya. Biasanya kita yang memberikan penguatan, hari ini terbalik. Kita yang sangat terberkati.

By the way ketika pertemuan berlangsung, seorang ustad beserta keluarga masuk ruangan, mereka : bapak, ibu dan anak anak perempuannya memeluk Ahok dengan erat, air mata hampir tertumpah, dan Ahok balas memeluk erat. Saya bingung juga yang begini ini kok ditahan karena menista ? Tapi sudahlah.

Senang sekali melihat keadaan Pak Ahok di Kelapa Dua, sekalipun pengamanan begitu ketat, ia seperti terkepung dari sana sini, namun jelas Pak Ahok tidak terperangkap, ia tetap bersukacita dalam imannya dan tetap menjadi berkat bagi banyak orang.

Tubuhnya terpenjara, namun pewartaannya membumbung tinggi dan menyinari hati banyak orang,

"Dari segala penjuru kami ditimpa kesulitan, tetapi tidak hancur luluh. Bingung namun tidak putus asa apalagi menyerah. Kami dihempaskan, namun bangun dan terus maju. Yakin Allah tidak pernah meninggalkan kami." (2 Kor 4 : 8-9 FAYH)

3 kali petugas mengingatkan jika waktu sudah habis, Pak Ahok masih berbicara dengan tempo yang sama, keras dan penuh keyakinan.

Ia melihat ke petugas, ia melihat ke kami. Kami berdiri lalu mendoakannya, ia menundukkan kepala. Kami sodorkan buku cerita anak yang kami terbitkan, berisikan pembelajaran nilai nilai anti korupsi bagi anak di usia dini, ia menandatangani lalu menjabat erat tangan kami satu persatu.

Sebelum melangkah ke pintu, ia masih berkata : anak anak dan istri saya nggak usah sering sering datang. Bikin gue kangen dan pengen pulang. Ahok memang kuat, namun perasaannya sebagai ayah dan suami tak bisa bohong. Ia rindu keluarganya.

Salam hangat dan doa dari kami di BPK Gunung Mulia. Tetap semangat Pak Ahok yang kami kasihi, Tuhan memberkati langkah juang Bapak dan Tuhan memberkati keluarga 

(Johan JT Tumanduk)

#SemogaSetelahBebasAhokBikinPartaiPastiGwGabungDeh

17 Rencana Teroris di Telegram: Bunuh Ahok dan Bom Istana

Para teroris di Indonesia menggunakan Telegram untuk berkomunikasi merencanakan aksi-aksi mereka. Setidaknya ada 17 rencana aksi yang terendus aparat Densus 88.

Beberapa di antaranya cukup mengejutkan. Seperti rencana pembunuhan terhadap (mantan) Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hingga pengeboman Istana Merdeka.

Berikut rinciannya:

17 Rencana Teroris di Telegram: Bunuh Ahok dan Bom IstanaFoto: InetGrafis
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer