Bayar Zakat Profesi, Akhirnya Ketahuan Berapa Sebenarnya Gaji Presiden Jokowi

Presiden RI, Joko Widodo menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim, yaitu membayar zakat.

Zakat dibayar Jokowi, demikian sapaannya, bukan zakat fitrah, melaikankan zakat penghasilan atau zakat profesi.

Pembayaran zakat dilakukan melalui Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Hadir menerima pembayaran, Ketua Baznas Bambang Sudibyo.

Presiden RI ketujuh ini membayar zakat senilai Rp 45 juta atau 2,5 persen dari penghasilannya per tahun.

Berapa sih sebenarnya gaji Jokowi?

Melalui zakat penghasilan tersebut diketahui jika total penghasilannya setahun mencapai Rp 1,8 miliar.

Cara Hitung 

Zakat penghasilan sebagaimana dijelaskan para ulama kontemporer boleh dibayarkan atau dikeluarkan setiap bulan maupun setahun sekali, yang jelas jika ditotal pendapatan bersih melebihi nishab zakat sehingga zakat yang dikeluarkan tetap 2,5 persen.

Dikutip dari Kompas.com melalui penjelasan Dr Setiawan Budi Utomo, Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Umar bin Abdul Aziz dan ulama modern seperti Yusuf Qardhawi tidak mensyaratkan haul (satu tahun) mengeluarkan zakat profesi, tetapi zakat profesi dikeluarkan langsung ketika mendapatkan harta tersebut.

Mereka mengqiyaskan dengan zakat pertanian yang dibayar pada setiap waktu panen. (haul: lama pengendapan harta).

Jadi, jika seorang muslim memperoleh pendapatan dari hasil usaha atau profesi tertentu, maka dia boleh mengeluarkan zakatnya langsung 2,5 persen pada saat penerimaan atau menunggu putaran satu tahun dan dikeluarkan zakatnya bersama dengan harta benda lain yang wajib dizakati senilai 2,5 persen.

Tetapi sebaiknya dikeluarkan perbulan agar lebih mudah dan gaji kita masih belum dipergunakan untuk kebutuhan lainnya yang tidak terduga sehingga kita tidak bisa membayar setelah itu.

Lebih jelasnya, menurut Yusuf Qardhawi perhitungan zakat profesi dibedakan menurut dua cara, yaitu:

1. Secara langsung, zakat dihitung dari 2,5 persen dari penghasilan kotor (brutto) secara langsung, baik dibayarkan bulanan atau tahunan.

Metode ini lebih tepat dan adil bagi mereka yang diluaskan rezekinya oleh Allah.

Contoh: Seseorang dengan penghasilan senilai Rp 5 jutatiap bulan, maka wajib membayar zakat senilai: 2,5% x 5.000.000 = Rp 125.000 per bulan atau Rp 1.500.000 per tahun.

2. Setelah dipotong dengan kebutuhan pokok (netto), zakat dihitung 2,5 persen dari gaji setelah dipotong dengan kebutuhan pokok.

Metode ini lebih adil diterapkan bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan.

Contoh: Seseorang dengan penghasilan Rp 2.000.000,- dengan pengeluaran untuk kebutuhan pokok Rp 1.000.000 tiap bulan, maka wajib membayar zakat senilai: 2,5% x (2.000.000 – 1.000.000) = Rp 25.000 per bulan atau Rp 300.000,- per tahun.

Zakat merupakan kewajiban individu yang harus ditunaikan manakala sudah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, diantaranya harta yang diperoleh telah memenuhi nishab.

Jangan Lupa Tips Berkut

Supaya kebutuhan beramal bisa terlaksana dan membawa manfaat optimal sesuai tujuan mulia, baca tips berikut ini sebagaimana dikutip dari Kompas.com:

1. Jangan tunggu kaya

Beramal tidaklah menunggu Anda kaya raya.

Berbagi pada sesama bisa Anda lakukan begitu mendapatkan penghasilan.

Hitunglah dahulu kondisi finansial Anda.

Misalnya, setelah semua kebutuhan dasar terpenuhi, kebutuhan membayar beban utang juga sudah tertutup, maka beramal adalah sebuah keharusan. 

2. Dahulukan yang wajib

Bagi Anda yang sudah memiliki penghasilan dan beragama Islam, ada bagian zakat profesi yang harus Anda bayarkan sebesar 2,5 persen dari total penghasilan rutin Anda.

Dahulukan dulu pos ini, baru setelah itu beramal yang sifatnya tidak wajib seperti sedekah atau sumbangan biasa.

3. Buat anggaran khusus

Setelah mengeluarkan bagian yang wajib yaitu untuk kebutuhan zakat, biasakan membagi penghasilan dalam pos-pos yang spesifik.

Untuk kebutuhan amal, buatlah anggaraan khusus untuk itu sekitar 10 persen dari total penghasilan. 

4. Hindari berutang

Beramal tapi memakai uang utangan, tentu saja tidak disarankan.

Bila memang penghasilan Anda belum memenuhi nishab atau syarat mengeluarkan zakat, maka biasakan beramal dengan kemampuan yang ada.

5. Bayar lewat badan resmi atau tidak?

Anda bisa membayar kewajiban zakat pada badan resmi seperti Baznas, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan lain sebagainya.

Membayar zakat atau bersedekah melalui lembaga resmi bisa mengoptimalkan amal Anda.

Namun, ada pula pakar zakat yang menilai menyalurkan zakat atau beramal di lingkungan sekitar, lebih baik.

Membayarkan langsung juga mendorong Anda lebih bermasyarakat.(*)




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer