Pria Ini Cerita Pengalaman Ketemu Putra Jokowi: Gibran Menjentikkan Jari, Semua yang di Ruangan Diam

Dikawal ketat, dikelilingi fasilitas-fasilitas yang memudahkan segala kegiatan adalah sedikit dari sekian banyak keuntungan yang didapatkan oleh anak presiden.

Namun sepertinya hal tersebut tak banyak berlaku bagi putra Presiden Jokowi.

Meski anak presiden, putra dan putri Jokowi terkenal bersahaja dan tak memanfaatkan kepemimpian sang ayah.

Banyak cerita di media sosial yang dibagikan netizen tentang pengalaman mereka saat bertemu langsung dengan putra Jokowi.

Kali ini kisah tersebut dibagikan oleh seorang pengguna Kaskus yang memiliki akun bernama adzansubuh.

Postingan yang ia unggah pada 12 Juni 2017 ini menarik perhatian netizen.

Pasalnya, ia menceritakan pengalamannya saat bertemu langsung dan ngobrol bersama Gibran.

Bukan tanpa alasan mengapa ia bisa bertemu dan ngobrol bareng Gibran, anak pertama dari presiden Republik Indonesia itu.

Pria 'adzansubuh' tersebut adalah seorang wartawan yang bekerja di Banjarmasin.

Ia pun bertugas meliput usaha kuliner milik Gibran yakni Markobar yang baru saja membuka cabang di Banjarmasin.

Berikut ini kisah yang ia bagikan di Kaskus.

"Saat datang ke Taher Square untuk memenuhi undangan grand opening Markobar Banjarmasin tadi sore, saya dibuat terkejut dengan kehadiran sosok anak orang nomor 1 negeri ini, Gibran Rakabuming Raka. Gimana nggak kaget. Pada undangan memang dijelaskan grand opening Markobar, namun tidak disebutkan bahwa Gibran akan hadir juga. Dalam poster grand launchingnya memang ada sosok Gibran, karena wajar saja menurut saya ada sosok owner di poster, tapi nggak nyangka dia juga bakal datang kemari.

Alih-alih grand opening mewah dengan acara meriah dan dihadiri oleh orang2 penting, Gibran memilih lokasi sekitar Markobar untuk acaranya dengan konsep yang sangat sederhana. Kursi disusun sekitar 50an, undangan terdiri dari anak panti asuhan dan wartawan juga tamu undangan yang bukan dari kalangan tokoh-tokoh penting kota ini, kecuali Rosehan (tokoh masyarakat) yg memang empunya Taher Square, tempat Markobar bernaung.

Menu makannya pun sederhana. Takjil, Nasi + ayam goreng kotak, plus bonus icip2 Markobar. Saya pikir pejabat2 kota ini tidak tahu anak presiden mampir dimari. Karena jika mereka tahu, pasti tempat ini akan sesak dipadati mobil-mobil pejabat. Lagipula Gibran adalah sosok yang sangat sederhana dan tidak suka publikasi. Alhasil para pejabat itu tidak tahu bahwa Gibran ada di Banjarmasin. Mungkin pas beritnya muncul mereka bakal nyesel ga nyambut anak presiden. Hihihi.Gibran saat membuka cabang Markobar di Banjarmasin (Kaskus : id @adzansubuh)

Masih saya ingat kemunculan pertamanya di TV. Dengan muka sewot dan ketusnya itu, media-media kena semprot karena telah ngegosipin dia macam2. Ayahnya pun langsung mencoba menyetop Gibran dihadapan para awak media di istana. Tapi mau gimana, Gibran memang tertutup, tidak seperti adiknya yang suka ngevlog dan nyeleb. Dia bukannya nganggur atau gimana, tapi memang tidak suka privasinya diketahui, makanya menutup diri saat Pilpres 2014 lalu. Gosip pun bermunculan saat itu. Kena semprotlah media2 saat Gibran unjuk gigi di istana untuk mengklarifikasi gosip yg beredar selama ini. Skip!

Ia pun tak sungkan solat maghrib berjamaah bersama anak2 panti di mushola sempit dan seadanya di Taher Square itu. Dia, walaupun tak banyak omongnya, serius dan sumpah, kaya orang biasa aja. Nggak ada eksklusifnya sama sekali! Saya menjadi saksi bagaimana Gibran sangat ramah melayani masyarakat yg ingin berfoto bersamanya. Ngobrol sama dia juga gampang. Ga perlu prosedur macam2 atau surat ini itu.

"Mas, bisa wawancara sebentar," pinta saya

"Oiya, silahkan," jawabnya santun.

Obrolan kami tak lama. Saya hanya melempar 1-2 pertanyaan saat itu. Karena ia sibuk, saya pun undur diri. Maklum, orang penting. Saya kemudian lanjut wawancara dengan (sepertinya) asistennya. Setelah Gibran tak sibuk, malah ia yang menghampiri saya, duduk disamping saya.

"Woi, lu tu anak presiden!" Kata saya dalam hati. Hehe.(Kaskus : id @adzansubuh)

Agak gemes aja karena sehari sebelumnya saya juga memenuhi undangan salah satu komunitas kain khas Banjarmasin. Mau ketemu ketuanya, si juara Master Chef itu, susahnya minta ampun, padahal di ruang yg sama. Sejauh inipun saat saya kerja dan perlu ketemu sama kepala dinas, kepala sekolah, ketua ini itu, ribetnya minta ampun. Lah ini? Anak presiden malah datang ke saya.

"Jadi gimana, mas?" Tanya dia. Kembali kami mengobrol seputar bisnisnya. Oiya, dia juga makan makanan yg sama dengan kami. Nasi kotak. Toss!

Berdampingan dengan Gibran lantas tidak membuat saya senang. Saya pikir kemanaan level anak presiden pastilah bukan main-main. Saya jadi paranoid, jangan2 orang2 semua yg ada disini itu pihak keamanannya mas Gibran? Paspampres semua? Terus Gibran menjetikkan jarinya dan lantas semua org berhenti kaya di film John Wick 2 itu? Syit! Kadang juga saya celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Pandangan saya juga mencari2 di bangunan2 tinggi sekitar lokasi. Jangan2 ada sniper yg sudah membidik saya karena tampang saya yg mencurigakan ini. Wallahualam. Tapi sepanjang acara, memang tidak terlihat keamanan yg ketat. Gibran dengan santinya kesana-kemari tanpa kawalan. Saya pikir pastilah ada kemanan. Entah mereka berubah jadi apa. Bisa jadi tong sampah, pohon, atau motor bebek. Mereka ahli menyamar!

Ngobrol dengan Gibran tidaklah gampang. Ketemunya emang gampang, tapi ngobrolnya endak. Tau sendiri, Gibran sosok yg irit ngomong. Dia bicara seperlunya. Nggak lebih, nggak kurang. Jadi setelah saya ngobrol tentang bisnis kulinernya itu, saya kehabisan bahan omongan. Terlintas di benak mau nanya:

"Bapak gimana kabarnya, Bran? Baik?"

Atau

"Hubungan kamu sama istri gimana?"

Fak, emangnya saya siapa.

Ya, itulah sulitnya ngobrol sama orang beda kasta beda lepel. Mau ngomong mikir 100x dulu. Mau ngomong serius ntar ketahuan begonya, mau becanda ntar ga lucu. Akhirnya sayapun pura2 sibuk mencet HP, padahal ga ada notif apa2.

Tak lama asistennya itu, si Kobar namanya, datang dengan sebungkus Markobar panas.

"Ini, mas, markobarnya, silahkan," pintanya halus.

"Monggo, mas, terima kasih," kata saya.

Penyerahan Markobar itu seakan tanda bahwa berakhirlah sudah momen kebersamaan saya yg sangat sedikit dengan Gibran. Entah kapan bisa ketemu lagi, tapi ini pertemuan yg bersejarah bagi saya. Saya harap sih bisa ketemu lagi dalam suasana yg lebih akrab, bair ngobrolnya juga enak hahaha. Dari kesederhanaan Anda, saya belajar banyak, mas. Ramadan memang bulan penuh berkah.Alhamdulillah."

Postingan ini pun menuai berbagai tanggapan dari pengguna Kaskus lain.

"mukanya ngeselin bray..."

"Dulu mukanya ngeselin, gak tau sekarang"

"Ni orang tipe tipe orang super pendiem tapi sekalinya keusik ngeri. Bagus buat jadi pemimpin. Sayang, dia nggak minat kayaknya untuk saat ini,"

"bagus sederhana dan juga baik. tapi kenapa mukanya nyeselin,"

"beda ya sama anaknya pepo,"

Kisah pria ini telah tayang di Kaskus dengan judul : Anak Presiden kok Gini-Gini Amat, Ya?

(Tribun Solo/ Rifatun Nadhiroh)




Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer