Dikatain Monyet Oleh Anggota Tim Sinkronisasi, Warga Kalimantan Meradang

Keinginan Presiden Jokowi untuk merealisasikan wacana pemindahan pusat pemerintahan Republik Indonesia keluar dari pulau Jawa seperti yang dilontarkan oleh Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro beberapa hari yang lalu terus menuai kontroversi. Terutama dari kalangan pendukung Anies-Sandi. Mereka seakan tidak rela jika Ibu Kota dipindahkan dari Jakarta. Mereka terus menyerang keinginan dari Presiden Jokowi ini. Apakah dengan berpindahnya Ibu Kota dari Jakarta membuat perjuangan mereka selama ini menjadi sia-sia? Perjuangan merebut jabatan Gubernur DKI Jakarta menjadi tidak ada maknanya lagi? Oleh karena itu mereka terus menerut melakukan perlawanan agar wacana ini tidak akan pernah terealisasi.


Ada pun alasan mereka adalah pemindahan Ibu Kota tidak segampang yang diperkirakan orang, perlu biaya yang cukup besar. Perlu waktu yang panjang serta perlu perencanaan yang matang. Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah wacana pemindahan Ibu Kota ini belum ada perencanaan yang matang? Bukankah sudah sejak jaman Presiden Soekarno wacana ini sudah digaungkan? Bahkan Presiden Soekarno sudah menyiapkan sebuah kota di Kalimantan untuk menjadi Ibu Kota pengganti Jakarta. Yaitu Palangka Raya yang berada di Kalimantan Tengah. Apakah dari dulu belum ada kalkulasi biaya yang akan dipergunakan untuk pemindahan Ibu Kota ini? Jika wacana ini benar-benar ingin direalisasikan, bukankah lebih mulai sekarang dirancang berapa biaya yang diperlukan, dimana Ibu Kota akan dipindahkan, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan semua pusat pemerintahan ke Ibu Kota yang baru, bagaimana dengan lahan yang tersedia? Semuanya harus direncanakan dari sekarang. Kalau terus-terusan ditunda, kapan realisasinya akan terlaksana?

Ternyata kegerahan tentang pemindahan Ibu Kota ini juga menyerang anggota Tim Sinkronisasi Anies-Sandi. Marco Kusumawijaya, seorang arsitek, peneliti dan perencanaan perkotaan yang aktif di organisasi Rujak Center for Urban Studies, yang juga cukup sering mengkritik kebijakan pemerintahan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama dalam hal penggusuran permukiman warga di bantaran kali. Kemarin Kamis (06/07/2017) sempat mencuit di akunnya @mkusumawijaya yang membuat warga Kalimantan menjadi marah.



Dalam cuitan tersebut Marco terang-terangan menyebut monyet-monyet, entah maksud apa Marco menyertakan monyet-monyet dalam kicauannya. Apakah Marco yang seorang peneliti tersebut masih membayangkan bahwa Kalimantan itu penuh dengan hutan-hutan belantara yang dihuni oleh monyet-monyet? Atau apakah Marco belum pernah berkunjung ke Kalimantan bahwa di Kalimantan mall-mall sudah menjamur? Media-media massa sudah berkembang dengan pesat? Atau Marco menyamakan bahwa warga Kalimantan adalah monyet yang harus menjadi saksi?

Kicauan dari Marco ini tentu saja membuat warga Kalimantan marah besar, terutama Fadjroel Rahman yang adalah orang Kalimantan asli, bersuku Banjar dan kini menjabat sebagai Komisaris Utama PT.Adhi Karya. Dalam kicauannya Fadjroel Rahman mempertanyakan maksud dari cuitan Marco tersebut.

“Penduduk Pulau Kalimantan thn 2016 sekitar 18,59 Juta Jiwa @mkusumawijaya “monyetnya” yg mana? Saya orang Kalimantan” begitu kicauan Fadjroel Rahman menanggapi kicauan Marco yang berbunyi demikian, “Kira2 korupsi meningkat kah kalau kantor2 pmrnth pindah k Kalimantan? Apkh media akan buka kantor di sana? Atau biar monyet2 yg jd saksi?”





Apakah Marco ingin menyatakan bahwa warga Kalimantan itu ‘mony*t’? Yang harus menjadi saksi tentang korupsi atau tidaknya jika kantor-kantor pemerintahan dipindahkan ke Kalimantan? Apakah Marco menganggap bahwa warga Kalimantan masih primitif seperti mony*t? Saya persilakan bung Marco untuk sekali-kali berkunjung ke Kalimantan, apakah Kalimantan masih seprimitif yang dibayangkan oleh bung Marco.

Kalimantan sekarang sudah tidak berbeda dengan kota-kota yang ada di Pulau Jawa. Mau melihat kota Kalimantan yang modern dan bersih? Silakan berkunjung ke Balikpapan, dan Anda akan terkesima dengan pesona alam dan kotanya. Mall-mall juga memenuhi kota-kota yang berada di Kalimantan, dan apakah Marco masih menganggap bahwa Kalimantan itu hanya hutan belantara yang dipenuhi oleh monyet-monyet?

Berikut ini adalah beberapa kicauan warga Kalimantan yang marah dengan cuitannya Marco Kusumawijaya.

Semoga ini benar2 diramekan, orang Kalimantan gak bakalan terima penghinaan ini.. #ndeso

— #PRAYforJakarta (@BOY71intan) 6 Juli 2017

Pingin ngrasa dikroyok monyet se Kalimantan sampe babak benjut x

— JoMa (@one_moreone) 6 Juli 2017

Pak @mkusumawijaya hrs banyak belajar dari monyet krn org2 kalimantan sungguh beradab dan mereka bkn monyet

— Deje74 (@deje74) 6 Juli 2017

saya juga org kalimantan,@mkusumawijaya anda jgn sembarangan ngomong yaa

— b a m z (@bamz_mr134) 6 Juli 2017

Selesaikan secara adat aja kalau msh sok jago ya dipisahkan aja

— 9517 DASAR NDESO (@blesshaicrot) 6 Juli 2017

Laporkan dan proses hukum, sdh sangat jelas masuk kategori penghinaan dari kalimatnya!!

— WilSon #HOKI (@WilSon_1788) 6 Juli 2017

Setelah mendapat reaksi dari warga Kalimantan, kemudian Marco melalui akunya meminta maaf atas cuitan dia sebelumnya.

Wah, ada yg tersinggung. Mohon maaf. Kesalahan sy menganggap pst pemerintahan akan di kawasan masih kosong, jauh dr jangkauan publik/media. https://t.co/B0XFIjEkxG

— marco (@mkusumawijaya) 6 Juli 2017

Makanya sebelum berkicau dipikir dulu baik-baik, apakah kicauan tersebut dapat menyinggung orang banyak atau tidak, kalau begini khan susah jadinya. Apalagi kalau warga Kalimantan yang merasa tersinggung kemudian melaporkannya ke polisi bukankah masalah ini akan bertambah panjang?



Saya kira begitu…





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer