Staf PNS Lari-lari Ngumpet di Kamar Kepala Dinas saat Akan Ditangkap, Kini Kadisnya Juga Ditahan

Sosok wanita berinisial R yang sempat melarikan diri saat akan ditangkap polisi, dan sembunyi di kamar kepala dinas, kasusnya kini memasuki babak baru.

Sebelumnya, perempuan bernama Rere yang bekerja sebagai staf di Dinas Kesehatan Lampung Timur itu diciduk di rumah kepala Dinas Kesehatan Lampung Timur, Rabu (14/6) malam.
Staf PNS Lari-lari Ngumpet di Kamar Kepala Dinas saat Akan Ditangkap, Kini Kadisnya Juga Ditahan

Kemarin Senin (3/7), giliran sang kepala dinas yang ditahan.

Keduanya terlibat kasus dugaan korupsi dana puskesmas.

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung melakukan penahanan terhadap Kepala Dinas Kesehatan Lampung Timur, Evi Darwati, terkait penyimpangan dana Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Penahanan dilakukan setelah Evi menjalani pemeriksaan selama 7 jam di ruang Subdit III Tindak Pidana Korupsi (Tipikor).

Evi mendatangi Mapolda Lampung sekitar pukul 10.00 WIB, Senin (3/7), didampingi dua kuasa hukumnya, Resmen Khadafi dan Erik Subarkah. Usai dicecar selama 7 jam, penyidik memutuskan menahan Evi sekitar pukul 17.40 WIB.

Kapolda Lampung Inspektur Jenderal (Irjen) Sudjarno mengatakan, penyidik sudah mengantongi lebih dua dari dua alat bukti dugaan keterlibatan Evi dalam penyimpangan dana JKN.

"Jadi, tersangka resmi ditahan mulai hari ini (Senin), dan penahanan akan dilakukan hingga 20 hari ke depan. Kemudian bisa dilakukan perpanjangan," kata Sujdarno di Mapolda Lampung, Senin.

Evi ditetapkan tersangka penyimpangan dana JKN sejak 19 Juni lalu, usai operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Tim Saber Pungli Polda Lampung pada 13 Juni.

Dalam OTT tersebut, polisi menyita barang bukti berupa uang sebesar Rp 48 juta.

Teriak-teriak dan pingsan

Pengungkapan kasus dugaan korupsi ini berawal dari operasi tangkap tangan Polda Lampung terhadap staf Diskes Lamtim bernama Rere. Saat OTT, penyidik sempat mengamankan Rere. Namun, wanita ini berhasil kabur.

Dua hari kemudian, polisi menangkapnya sedang bersembunyi di rumah Kadiskes Lamtim. Usia diperiksa, penyidik langsung menahannya.

"Ketika anggota kami hendak mengamankan, pelaku sempat lari ke rumah kepala dinas kesehatan dan bersembunyi ke dalam kamar sambil berteriak-teriak tidak mau ditangkap sehingga mengundang banyak orang datang," kata Kapolda.

Dengan berbagai upaya akhirnya pada Rabu malam anggota berhasil membawa pelaku ke Mapolda Lampung untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

"Tapi sayangnya pelaku pingsan dan dirujuk ke Rumah Sakit Bhayangkara untuk rawat inap," katanya lagi.

"Dia (R) kami amankan di Lampung Timur, di suatu tempat di rumah kepala dinas kesehatan. Saat itu dia teriak dan mengundang orang datang, langsung diamankan," jelasnya.

Sudjarno mengatakan, dari penangkapakan Rere pihaknya sudah mengamankan sejumlah dokumen termasuk uang Rp 48 juta yang diduga merupakan uang dari proyek Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Mantan wakapolda Metro Jaya ini menambahkan, pihaknya masih melakukan pengembangan untuk menelusuri asal uang dan ke mana tujuan uang tersebut, termasuk mengejar sosok berinisial E.

"Kami masih kembangkan terus, untuk minta keterangan dari R ini. Dari mana dia dapat uang, ke mana uang itu akan dikirim. Soal apakah ini proyek JKN masih kami kembangkan," katanya.

Operasi Saber Pungli tersebut berlangsung pada Selasa (13/6) lalu. Saat itu R diduga akan menyerahkan uang Rp 48 juta kepada pejabat Diskes Lamtim.

Sayangnya, polisi tak memborgol oknum perempuan tersebut sehingga ia berhasil kabur.

Penangkapan terhadap R diduga terkait dana JKN. Informasi yang dihimpun Tribun, 34 puskesmas di Lamtim masing-masing mendapat alokasi Rp 1 miliar.

Disinyalir ada pemotongan dana sebesar 10 persen per puskesmas.

Dana pungli 10 persen itulah yang diduga akan disetorkan ke pejabat Lampung Timur.

Sudjarno mengatakan, tersangka Evi diduga telah menyalahgunakan wewenang jabatannya untuk melakukan pemotongan anggaran dana program JKN.

Modusnya, tersangka Evi memberikan instruksi sekaligus memerintahkan Rere untuk memangkas anggaran tersebut.

"Pemotongan dana JKN dilakukan dengan cara meminta dana dari masing-masing puskesmas di wilayah Kabupaten Lampung Timur," kata Sudjarno.

Teknis pemotongan, sambung dia, adalah saat pencairan dana. Masing-masing puskesmas mencairkan dana JKN, kemudian dananya ditarik dan dipotong oleh Rere.

Uangnya diambil dari petugas bendahara puskesmas.

"Jumlahnya variatif, ada yang berjumlah Rp 10 juta, Rp 13 juta. Total keseluruhan uang yang disita berjumlah Rp 48 juta. Jadi, dana dipotong setelah dana program pusat pencairan," paparnya.

Sudjarno menambahkan, pemanggilan terhadap Evi, Senin kemarin, merupakan pemanggilan kedua oleh penyidik. Sebelumnya, Evi berhalangan hadir.

"Baru kali ini yang bersangkutan (Evi) bisa memenuhi panggilan penyidik," urainya.

Menurut Sudjarno, dalam kasus ini penyidik sudah meminta keterangan dari 12 orang saksi.

Para saksi merupakan para bendahara puskesmas. Selain itu, penyidik juga meminta keterangan dari AR, suami Evi.

"AR dijadikan sebagai saksi. Karena penangkapan tersangka R (staf Diskes) dilakukan di rumahnya (Kadiskes Evi dan AR). Dan, saat itu AR sedang berada di rumah," imbuhnya.

Kapolda menambahkan, dalam kasus ini penyidik sudah mengamankan barang bukti, di antaranya tiga amplop putih masing-masing berisi uang Rp 13 juta, Rp 25 juta, dan Rp 10 juta.

Di amplop itu tertulis nama tiap-tiap puskesmas. Polisi juga menyita sejumlah ponsel berbagai merek dari tersangka R, dua lembar surat permintaan uang (SPU), dan dua lembar rekening koran dari Bank Lampung.





Loading...
loading...
loading...
Warning!!!situs ini hanya bertujuan untuk menyampaikan berita dari situs-situs berita yang ada di indonesia. Situs ini tidak membuat berita sendiri, situs ini hanya mempermudah para perselancar internet untuk mendapatkan berita-berita terbaru yang ada di indonesia. Di akhir artikel berita, Kami menanamkan "Link Sumber" untuk mengetahui sumber tersebut berasal. Terimakasih ;)

Populer